![]() |
| Violin. http://www.wpclipart.com/music/instruments/violin/violin_outline_bold.jpg |
|
H
|
ari ini akan menjadi awal hari-hari yang berat di musim yang dapat
membuat tulang-tulangmu terasa membeku seperti es batu. Setidak-tidaknya setiap
orang akan berjalan lebih berat dan tampak menjadi dua kali lebih besar
daripada biasanya karena jaket dan mantel musim dingin yang mereka pakai. Tapi
hari-hari yang berat itulah yang malah membuat wajah kota Praha menjadi lebih
indah. Bahkan dari kota manapun di dunia.
“Ah, lagi-lagi aku
yang menjadi tumbal atas keindahan kota Bohemian ini. Seharusnya turis-turis
itu tahu yang mereka nikmati memerlukan pengorbanan yang tidak mereka
pikirkan”, gumam Rudolf dalam hati
Bagi Rudolf, hari-harinya mungkin menjadi lebih berat dibanding
hari-hari siapapun di Praha. Setidaknya membuat segalanya lebih tidak
menyenangkan. Jari-jarinya akan lebih kaku saat memencet senar-senar biola,
siku tangannya akan lebih mudah kram saat menggesekkan bow atau busur biola. Kakinya akan terasa sangat berat dan lesu menopang
tubuhnya di tengah butiran salju yang berjatuhan.
Tapi apalagi hal yang lebih indah dari musim dingin dan bunyi
gesekan biola yang mengalun di jalanan kota Praha? Ini adalah perpaduan luar
biasa antara visualitas dan musikalitas. Seharusnya pengamen-pengamen jalanan
seperti Rudolf ini mendapat penghargaan dari Dewan Kota Praha, karena merekalah
roh keindahan Praha di musim dingin, merekalah not-not indah dalam partitur berjudul
Praha.
Namun ada satu hal yang membuat Rudolf tetap bersemangat mengamen di
jalanan Praha pada musim dingin ini. Bukan karena jumlah turis yang makin
bertambah dan menambah penghasilannya, tetapi karena ada seorang wanita
misterius yang selalu membuat hatinya bertanya-tanya. Wanita yang selalu
melewatinya di Jumat malam dengan wajah menunduk sambil berjalan. Wanita yang
berlalu bagai hembusan angin dengan rambut blondenya yang terurai. Wanita yang
selalu menaruh uang minimal 100 Koruna pada koper biolanya!
“Aku tak sabar untuk menanti hari Jumat, akan kualunkan lagu
terbaikku untuknya. Lagu yang sudah kuciptakan khusus untuk yang terindah di
kota Praha!”, gumamnya lagi sambil menyikat giginya.
“Tok, tok, tok…”, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar
apartemennya.
“Siapa? Tunggu sebentar”, ujar Rudolf sambil bersiap diri.
“Ini aku, Marek”, ujar seseorang di balik pintu.
“Oh, ternyata kamu, ada perlu apa di hari sepagi ini Marek? Bukankah
hari ini kamu tak bisa belajar biola?”, tanya Rudolf kepada Marek.
Marek adalah tetangga apartemennya, umurnya sekitar 11 tahun. Ia
tinggal bersama ibunya, Ivana yang bekerja di klub malam. Ibunya seorang
pecandu. Marek tak pernah melihat ayahnya semenjak ia lahir.
“Lagi-lagi ibuku membawa pria asing. Bolehkah aku disini seharian
ini Rudolf?”, jawab Marek bernada lemas.
“Tentu saja, masuklah Marek,
buatlah dirimu senyaman mungkin. Aku akan membuatkan roti panggang untukmu. Oh ya,
kau mau jus jeruk atau susu?”, ujar Rudolf menenangkan.
“Jus jeruk saja, tampaknya jus jeruk akan membuatku lebih
bersemangat hari ini”, timpal Marek.
Marek lantas menjatuhkan dirinya di sofa kecil, matanya memutari
seluruh ruangan. Kemudian lewat jendela di sampingnya ia melihat butiran salju
yang berjatuhan berirama. Butiran salju yang putih bersih, sangat kontras
dengan kondisi kamar Rudolf dan kamar-kamar lain di apartemen ini.
Bercak-bercak di dinding, pintu dengan kayu yang sangat tua dan kusam, yang
selalu berdecit saat dibuka menjadi salah satu ciri khas interiornya. Yah,
kawasan tempat tinggal mereka adalah sisi gelap kota Praha dengan segala
keindahan dan kemegahan ala Bohemia-nya.
Bau wangi khas roti yang terpanggang tiba-tiba memenuhi ruangan.
Lantas diikuti dengan harum kopi yang diseduh dengan air yang amat panas, yang
bisa melelehkan bekunya hari yang bersalju. Marek mengambil biola Rudolf yang
diletakkan diatas sebuah kabinet di pojok ruangan. Sejenak dipandanginya biola
yang tampak sangat tua itu, lantas ia mulai menggesekkan bow ke senar-senar biola.
“Permainanmu semakin memperlihatkan kemajuan Marek”, ujar Rudolf
sambil menaruh beberapa roti panggang.
“Terima kasih Rudolf, aku akan terus berlatih agar bisa menjadi
sepertimu”, timpal Marek.
“Kenapa seperti aku? Kau harus lebih hebat dan sukses dalam
bermusik, kau akan menulis partitur-partitur hebat seperti Wolfgang Amadeus
Mozart!”, balas Rudolf menyemangati.
“Siapa itu Wolfgang Amadeus Mozart?”, tanya Marek.
“Dia adalah seorang maestro musik. Bahkan dia mampu menciptakan komposisi
musik saat berumur 5 tahun!”, seru Rudolf menyemangati.
“Wow, dia pasti orang yang sangat pintar dan hebat dalam bermain
musik”, sahut Marek terkagum.
“Lebih dari pintar, dia jenius!”, timpal Rudolf
“Baiklah! Aku akan berusaha menjadi seperti Wolfgang Amadeus
Mozart!”, ujar Marek bersemangat.
Rudolf tersenyum melihat semangat Marek, dalam pikirannya terngiang
bagaimana dulu ia juga bercita-cita ingin menjadi musisi hebat seperti Mozart
setelah mendengar cerita dari kakeknya. Cerita yang sama persis ia ceritakan
kepada Marek. Tapi segala sesuatu memang tak selamanya menjadi seperti yang
diinginkan. Pernah ia ikut menjadi pemain biola dalam suatu orkestra, tapi
persaingan antar orkestra membuat orkestra tempat Rudolf bermain menjadi tidak
laku dan akhirnya bubar. Eropa adalah Colosseum bagi orkestra dunia.
Kadang ia merasa
kecewa dengan dirinya, di usianya yang menginjak 30 tahun ia merasa kosong. Ia
sering merasa hidupnya tidak memiliki banyak arti. Dan bermain biola adalah
satu-satunya obat ketika pikirannya sedang kacau. Nada-nada minor cocok dengan
suasana hatinya ketika sedang tertekan atau sedih.
“Kota ini memang
indah, dengan segala kemegahan dan kekejamannya. Gedung-gedung megah dan
bangunan artistik itu sangat kontras dengan makin banyaknya tunawisma di kota
ini. Kau memang indah, Praha”, gumam Rudolf melankolis.
“Hari ini kau akan
bermain dimana Rudolf?”, tanya Marek mengagetkan lamunan Rudolf.
“Oh, hari ini
tampaknya aku akan mengamen di Karluv Most”, jawab Rudolf terkaget.
“Kukira kau akan ke
Kota Tua hari ini, bolehkah aku ikut?”, sahut Marek.
“Baiklah, kita akan
berangkat sebentar lagi. Aku akan berganti baju dahulu”, ujar Rudolf sambil
mengambil bajunya.
Mereka berdua lalu
menuruni tangga apartemen dan keluar menuju pemberhentian bis di belokan dekat
apartemen. Sebenarnya mereka bisa naik trem atau kereta subway, tapi dari apartemen mereka lebih dekat pemberhentian bis. Di
perjalanan terlihat warna putih dimana-mana, salju yang menutupi trotoar, atap
gedung, halaman rumah, dan lampu kota. Akhirnya, mereka sampai di Karluv Most.
Karluv Most atau
yang lebih dikenal turis dengan nama Jembatan Charles adalah sebuah jembatan
yang dibangun di abad 15, melewati sungai Vltava dengan tujuan menghubungkan
Kota Tua dengan kastil di Hradcany. Jembatan ini dihiasi dengan tiga puluh
patung kuno santo-santo, walaupun kebanyakan darinya kini adalah replika. Yang
paling terkenal adalah patung Santo John dari Nepomuk. Banyak yang percaya, orang
bakal beruntung jika dapat menemukan dan menyentuh dua bagian di patung ini.
Cara mencarinya mudah, bagian tempat untuk disentuh lebih berkilau dari bagian
lain karena telah sering disentuh.
“Hey, lihat itu Rudolf!
Pemain saxophone itu dikerubungi pengunjung!”, ujar Marek sambil menunjuk.
“Oh, itu Alexei.
Dia memang pemain saxophone yang pintar menarik perhatian. Permainannya
atraktif”, jawab Rudolf.
Para turis terlihat
antusias melihat permainan Alexei, gaya permainannya memang atraktif dan
terlihat sangat menjiwai. Komposisi dari pemain saxophone kelas dunia seperti
Kenny G dan Dave Koz bisa ia mainkan dengan sangat atraktif. Turis-turis asing
terpukau dengan permainannya, apalagi dengan gayanya yang flamboyan itu. Beberapa
dari mereka asyik mengabadikan penampilan Alexei dengan kamera.
Dengan setelan jas warna putih dan sepatu kulit mengkilat warna
krem, ditambah kilau rantai emas di kalungnya, Alexei mencuri perhatian seisi
jembatan. Bahkan menurut kabar yang didapat Rudolf dari musisi jalanan
lain, Alexei sering mengencani
turis-turis asing atau juga menjadi semacam pria panggilan bagi turis-turis
wanita. Maka itu di kalangan musisi jalanan ia dijuluki Si Ular Putih karena
tingkah lakunya yang sering menggoda turis.
“Ayo kita beri
perlawanan padanya Rudolf!”, seru Marek tiba-tiba bersemangat.
“Ah, anak ini jadi
ikut-ikutan gila seperti Si Ular Putih itu”, gumam Rudolf sedikit kesal.
“Sudahlah Marek,
tak usah hiraukan dia. Setiap orang memiliki gaya dan ciri khas masing-masing.
Kadang kita tak perlu nafsu dan saling mengejar”, ujar Rudolf menimpali Marek.
“Tapi kau harus
menunjukkan permainan terbaikmu Rudolf! Aku ingin turis-turis itu tahu bahwa
kau tidak kalah hebatnya dengan Alexei!”, seru Marek membalas.
“Baiklah, lebih
baik kau lihat saja aku dan cobalah menarik perhatian turis-turis asing”, kata
Rudolf.
“Beres!”, seru
Marek
Rudolf
mempersiapkan dirinya, dia mengambil tempat di antara patung Santo Luthgard dan
Santo Adalbert. Dia memulai komposisi pertamanya, yaitu komposisi biola dari
lagu John Lennon yang terkenal yang berjudul “Imagine”. Lagu itu sudah menjadi
lagu pamungkasnya untuk menarik turis-turis asing selama beberapa tahun ini.
Menurutnya lagu itu memiliki kekuatan yang universal, apalagi dengan nama John
Lennon sebagai penciptanya, pasti turis manapun mengenal lagu itu.
Turis-turis mulai
berdatangan dan melemparkan Koruna demi Koruna ke dalam koper biola Rudolf. Dua
turis asal Jepang terbawa suasana, menggelengkan kepala mereka mengikuti irama
gesekan biola Rudolf. Yoko Ono memiliki andil besar dalam hal ini. Marek yang
semenjak awal sudah menari-nari untuk menarik perhatian akhirnya kelelahan
setelah misinya tercapai. Ia lalu duduk disamping Rudolf dan hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya mengikuti irama.
Tak terasa sore telah tiba, butiran salju mulai berjatuhan lagi dari
langit dan disusul oleh hembusan angin yang membikin ngilu tulang. Rudolf dan
Marek akhirnya berkemas, takut terjadi hujan salju yang lebih lebat. Walaupun
mereka tak bisa mengalahkan Alexei, namun bagi mereka hasil hari itu sudah
lebih dari cukup. Mereka segera berlari, menuju kedai kopi terdekat.
Pagi hari muncul lagi, kali ini Rudolf tampak sangat bersemangat
walaupun ia bangun agak kesiangan. Tapi apalah arti kesiangan bagi seorang
musisi jalanan seperti dirinya. Apalagi hari ini dia tidak berniat untuk
mengamen di Karluv Most. Ada banyak alasan untuk hal itu di hari ini. Yaitu
karena hari ini ia akan memainkan lagu ciptaannya untuk yang pertama kali.
Karena hari ini ia akan memakai baju terbaiknya. Karena hari ini hari Jumat!
Siang itu ia habiskan untuk berlatih dan mencari-cari pakaian yang
cocok untuk hari itu. Lemarinya sudah berantakan, pakaiannya berserakan
dimana-mana. Setelah menemukan yang cocok, ia kemudian bergegas mandi karena
hari sudah sore. Kali ini butuh waktu cukup lama baginya untuk mandi dan
berdandan. Setelah semuanya siap ia langsung bergegas pergi, kali ini Marek
tidak ikut bersamanya. Di malam hari tak ada yang bisa mengganggunya untuk
menonton TV.
Tempat mengamen malam Sabtu adalah di perpotongan jalan Dusni dan
jalan U Milosrdnych. Oleh karena itu di otaknya ada suatu keyakinan bahwa
wanita yang menjadi misteri itu adalah seorang perawat yang bekerja di rumah
sakit yang berada dekat dengan jalan itu.
“Wanita itu pastilah seorang perawat. Hanya perawat yang memiliki
kharisma dan jiwa yang teduh karena kebiasaannya merawat orang yang sakit. Dan
kalaupun itu benar, mungkin baginya aku ini orang sakit”, gumam Rudolf
Setelah menemukan tempatnya, Rudolf mulai mempersiapkan diri dengan
membuka koper biola dan melemaskan jemarinya. Satu dua lagu mulai di
mainkannya. Para pejalan kaki yang hilir mudik membuat kopernya kian penuh kali
ini. Namun wanita misterius itu tak kunjung lewat juga.
“Ah, mungkin sebentar lagi dia lewat. Aku harus lebih bersabar.
Semua ini tak boleh menjadi sia-sia”, gumamnya lagi.
Malam semakin pekat, namun wanita itu tak juga melintas. Malahan
berdiam di pikiran Rudolf. Membuat Rudolf menerka-nerka, kenapa ia tak juga
lewat? Apakah ia sakit? Atau terjadi sesuatu yang buruk? Akhirnya Rudolf pun
pulang dengan hati hampa.
“Tok, tok, tok.”, terdengar suara ketukan pintu
“Rudolf, bangun Rudolf….! Ada surat untukmu”, suara Marek menyeruak
kemudian.
Dengan separuh kesal Rudolf bangun. Sudah pastilah kekesalannya
diakibatkan oleh malamnya yang buruk. Separuh matanya masih terpejam saat
membuka pintu dan menerima surat dari Marek. Rambutnya tak karuan bentuk.
“Dari siapa?”, tanya Rudolf dengan mata yang separuh terpejam.
“Aku tak tahu. Seorang wanita memberikannya padaku. Dia bilang ini
untuk Rudolf”, jawab Marek.
“Seorang wanita? Bagaimana ia bisa tahu namaku pula?”, tanya Rudolf
lagi.
“Aku tidak tahu, mungkin ia temanmu dulu.”, jawab Marek.
Rudolf mengakhiri pertanyaannya dengan menutup pintu. Namun dalam
otaknya pertanyaan itu belum berakhir. Dengan hati-hati ia membuka amplop dan
membaca suratnya. Seketika itu raut mukanya berubah.
Untuk Rudolf,
Malam itu kau pasti
menungguku. Maafkan aku, aku tak bisa mendengarkan permainan biolamu malam itu.
Mulai malam itu aku berganti shift jaga sebagai perawat. Aku merasa sedih dan
berhutang 100 Koruna kepadamu. Maka itu dengan surat ini aku ingin membayar
hutangku kepadamu. Temui aku pukul 19.00 malam mini di restoran Michal.
Irenka
NB : Aku mengetahui nama dan alamatmu dari Alexei
“Kali ini kau
penyelamatku Alexei. Ternyata bagiku kau ada gunanya”, ujar Rudolf dalam hati
yang berseri-seri
Kali ini Rudolf tampak seperti orang gila. Dengan rambut yang
acak-acakan ia terus saja tersenyum sendiri. Dipandangi dan dibacanya terus
surat itu sambil tersenyum.
Dan ketika ia terus saja memandangi surat itu, sayup-sayup terdengar
suara biola dari kamar Marek. Dan semakin lama terdengar seperti “Cosi Fan
Tutte”, simfoni cinta buatan Wolfgang Amadeus Mozart.
“Ah, tak mungkin anak itu memainkan
Mozart”, gumam Rudolf.

No comments:
Post a Comment