Thursday, May 13, 2010

Seorang Pedagang Sapu dititipi Anak oleh Orang Tak Dikenal


Bandung, 9 Mei 2010. Saya sedang berada di rumah kakek saya di Cicendo, Bandung karena pada tanggal 8 Mei 2010 nenek saya meninggal. Kemudian pada hari Minggu tersebut dibelakang rumah kakek saya terdapat kerumunan orang. Tante saya berkata bahwa ada orang yang diberi anak oleh orang yang tak dikenal. Kejadian yang menarik. Tanpa pikir panjang saya langsung ingin menjadikannya sebagai bahan praktek jurnalisme saya.

Saya bergegas kebelakang dengan hanya bermodalkan handphone semata. Maklum, masih menabung untuk dapat membeli kamera DSLR yang sedang ngetrend. Sedangkan kamera pocket digital saya sedang rusak di rumah. Tapi ternyata handphone saya pun sanggup mengakomodir berbagai praktik jurnalistik seperti merekam wawancara, mengambil gambar, bahkan merekam video walau dengan kualitas yang rendah.

Seorang pedagang sapu berinisial AT (36) mengaku pada malam sebelumnya dia didatangi seorang perempuan tak dikenal yang memintanya untuk menjaga anak perempuannya yang masih balita dan dijanjikan akan diberi upah Rp 300.000,00 per bulan. Karena kasihan maka AT menerima tawarannya. Tapi yang menurutnya aneh bahwa sang ibu tersebut terlihat tergesa-gesa. Warga Babakansari, Kiara Condong ini berkata, "Saya melakukan ini karena kebaikan semata mas", ujarnya dengan pasrah.

"Lagipula menurut saya anak ini membawa berkah, tadi saya ajak jualan ternyata dagangan saya laku banyak, beda kayak biasanya. Saya ikhlas mau ngangkat anak kalau ibunya ga mau ngambil dia lagi. Lagian istri saya juga menginginkan anak, karena sejak menikah kami belum punya anak" ujarnya panjang lebar dengan logat Banyumasan yang medok.



Ketika ditanya siapa nama anak tersebut, AT tidak tahu karena begitu terburu-burunya sang ibu ketika menitipkan anak tersebut.

"Yang pasti dia menitipkan KTP nya pada istri saya sebagai bukti mas", ujarnya.

Ketika saya lihat KTP tersebut disitu tertulis Neneng Sugianti, lahir di Jakarta, dan beralamatkan di kelurahan Pangkalan, Semanan, Kali Deres, Jakarta Barat dan bekerja sebagai karyawati.

Kemudian saat ditanya apakah sudah melapor polisi, AT menjawab belum karena takut. Namun dia berkata bahwa sudah melaporkannya kepada ketua RT setempat. Lagipula ia juga takut anak itu malah dibawa polisi. Karena ia sendiri lebih memilih untuk mengangkatnya sebagai anak karena belum memiliki anak. Sedangkan dari pengamatan saya, anak balita perempuan tersebut terlihat memiliki suatu kekurangan khususnya dibagian mental.

Kejadian yang menarik yang sering kali terjadi pada masyarakat suburban dengan ekonomi menengah kebawah. Ketika hal-hal yang sulit dinalar banyak terjadi. Inikah potret kehidupan kaum suburban Indonesia?

2 comments:

  1. great story...!!!

    ReplyDelete
  2. Petrus Agus SantosoMay 15, 2010 at 11:16 AM

    Banyak sudah tersedia di bumi kita, semua aspek kehidupan yang merupakan 'lahan' jurnalistis. Tinggal bagaimana mengemas dan menyajikan. Permulaan yang bagus. Tingkatkan.

    ReplyDelete