Friday, May 14, 2010

Selongsong

Sejatinya nyawa bagai mesiu
Dan tubuh akan kembali jadi debu
Sempatkanlah diri mengadu
Dalam setiap getir dan pilu

Dan ketika peluru diberondongkan
Para selongsong akan berjatuhan

Dan tangis pun meledak
Kontras dengan peminum tuak

Putih
Kuning
Hitam

Kami berduka, anjing melonglong
Ketika saat tiba, hanya selongsong




Bandung, 9 Mei 2010

No comments:

Post a Comment