Sejatinya nyawa bagai mesiu
Dan tubuh akan kembali jadi debu
Sempatkanlah diri mengadu
Dalam setiap getir dan pilu
Dan ketika peluru diberondongkan
Para selongsong akan berjatuhan
Dan tangis pun meledak
Kontras dengan peminum tuak
Putih
Kuning
Hitam
Kami berduka, anjing melonglong
Ketika saat tiba, hanya selongsong
Bandung, 9 Mei 2010
No comments:
Post a Comment